Pendidikan

TIDAK ETIS JUMLAH KORBAN DARIPADA SANDERA

TIDAK ETIS JUMLAH KORBAN DARIPADA SANDERA

Penulis: Dr. Ahmad Afif, M.EI, CWC.

Instagramamanahzakat

Jauh sebelum Badai Al Qasam digaungkan, Abad 20 lalu menjadi bukti sahih insiden berdarah era sekarang; dimulai genderangnya. Bagaikan sebuah mimpi buruk di siang bolong. Ataupun juga mimpi tidur setelah shubuh tiba. Rasa-rasanya semua manusia - termasuk penduduk +62 - sudah tidak asing lagi dengan nuansa tidur pada dua waktu tersebut. Biasanya, kalau siang bolong banyak mengigau; mulai mimpi ketemu gebetan (bagi yang muda) sampai mimpi ditimpa hujan emas 60 karat (bagi yang sudah berumah tangga). Itupun juga berlaku bagi warga yang tidur setelah shubuh. Tapi bedanya, lebih bernuansa horor mimpinya. Bisa-bisanya aktris film tema “Malam Jumat Kliwon” terus berdatangan pada warga yang terlelap di waktu pagi hari.

Palestina telah dikuasai Inggris pada saat Perang Dunia I, kemunculan momen tersebut telah mendudukkan perkara Palestina dengan kebijakan kompeni ala Inggris melalui Deklarasi Balfour untuk mendukung pendirian rumah nasional Yahudi di negara Palestina. Peristiwa ini, mendorong bangsa Yahudi seantero belahan dunia datang ke tanah Palestina. Selama periode ini, imigrasi Yahudi meningkat, sekaligus memancing ketegangan antara komunitas Yahudi dan Arab Palestina kian marak terjadi. Fakta miris lainnya datang kemudian hari setelah Perang Dunia II, PBB membagi wilayah menjadi dua yaitu; Arab dan Yahudi. Namun, Arab Palestina tidak menerima keputusan sesuai Resolusi PBB Nomor 181 pada tahun 1947. Akhirnya, meletuslah perang Palestina-Israel; yang ironinya dimenangkan oleh Israel di tahun 1948 sehingga Palestina mengungsi, sedangkan Yahudi Israel telah membentuk sebuah negara bernama “Israel”.

Beda fakta sejarah, beda pula realitas kekinian. Palestina telah menjelma sebagai kawasan hancur lebur, tapi tetap meraih kemenangan di tengah kebisingan politik internasional di tahun 2025. Biden turun, maka gencatan senjata pun diputuskan. Begitu juga dengan seabrek drama yang dibumbui akibat adanya politik internasional USA di tengah pergantian Presiden kepada Trump di pemilu 2024. USA dengan segudang pelik dinamika politiknya, memungkinkan fase gencatan senjata pada perang terdahsyat sejak 1948 antara Palestina-Israel ini kembali menemui jalan terjal. Bisa jadi seterjal kecuraman puncak Himalaya atau bahkan puncak Semeru yang penuh dengan misteri runtuhan batu tebing, ataupun badai ala ciri khas Puncak Semeru. Sejatinya, gencatan senjata terbaru mensyaratkan terjadinya 3 fase perjalanan. Fase ketiga akan diakhiri dengan rekonstruksi Gaza selama 3-5 tahun ke depan. Tidak ada gading yang tak retak, peribahasa tersebut nyaris “pas” dengan kondisi fase pertama yang disebutkan bahwa akan terjadi barter sandera. Hamas akan membebaskan 33 sandera. Mereka termasuk anak-anak, perempuan, pria berusia di atas 50 tahun, serta individu yang terluka atau sakit. Israel akan membebaskan lebih dari 1.000 tahanan Palestina. Ini mencakup tahanan yang telah dijatuhi hukuman penjara panjang, kecuali mereka yang terlibat langsung dalam serangan 7 Oktober 2023. Pertanyaannya sekarang adalah; apakah sepadan barter sandera dengan jumlah korban serta kerusakan yang ditimbulkan akibat perang ini?. Coba kita lihat data bahwa korban tewas Perang Gaza Bisa Tembus 40% Lebih Banyak. Menurut pernyataan pejabat kesehatan Palestina, lebih dari 46.000 orang tewas dalam perang Gaza, dari total populasi sekitar 2,3 juta jiwa sebelum perang baru-baru ini. Belum lagi kerugian yang diderita. Palestina juga melansir bahwa seluruh sektor ekonomi telah terkena dampak yang parah, dengan sektor konstruksi mengalami penurunan paling substansial sebesar 75,2%. Belum lagi sektor lainnya serta pendapatan nasional mereka. Bagaimana dengan Israel?. Jumlah korban penduduk Israel dan tentaranya belum diketahui dengan pasti sedangkan kerugian finansial berjumlah USD67 miliar atau Rp1.097 triliun sebagai akibat dari perang genosida di Gaza. Belum faktor lainnya seperti pendapatan riil dan nasional mereka.

Disamping itu, jumlah sandera dengan berbagai cerita profilnya sepertinya masih janggal dilihat. Bandingkan saja 6% populasi Palestina berkurang pasca perang Badai Al Qasam dari 3 juta-an jiwa. Peluang untuk dapat menerima ganjaran formalitas perang melalui “sandera” sepertinya masih jauh dari kata “impas”. Badai Al Qasam, kini sudah reda setelah setahun lebih melanda kawasan Gaza dan sekitarnya. Ibarat dikata, kalau ada badai disertai angin berikut pasir yang beterbangan, maka yang dicari adalah seseorang yang berada disekitarnya untuk dimintai pertolongan, atau sesuatu hal yang ada didekatnya ketika badai baru menerpa; untuk dijadikan tumpuan agar selamat dari malapetaka. Begitu juga Palestina sekarang, dulunya adalah sebuah negara, kemudian dijajah Inggris, lanjut pada akhirnya terkena imbas dari pendudukan penjajah melalui “Rumah Bersama Yahudi” sehingga membuat dinamika berkecamuk sampai sekarang.