Tasamuh Multikultural Umat Islam Indonesia
Penulis: DR. AHMAD AFIF
Telah kita saksikan bersama bahwa Indonesia merupakan negara yang majemuk. Saking majemuknya, terdapat lebih dari 300 kelompok etnik atau suku bangsa, lebih tepatnya terdapat 1.340 suku bangsa di Tanah Air. Kalau berbicara tentang jumlah etnik dan suku, tentunya kita akan disandingkan dengan Bahasa, budaya, dan adat istiadat setempat. Indonesia memiliki 715 bahasa daerah dan merupakan negara pemilik terbanyak kedua setelah Papua Nugini dengan 840 bahasa daerah. Dalam aspek budaya, negara sekaya Indonesia memiliki puluhan ribu budaya yang disesuaikan dengan letak geografis dan kelompok etnik atau suku yang terbesar seantero tanah air.
Tidak dipungkiri memang, Al quran telah lama menyinggung keberagaman dalam surat Al Hujurat ayat 13 yang berbunyi:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ - 13
Artinya: "Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti."(QS. Al-Hujurat:13).
Jadi jelas, perbedaan adalah sunnatullah yang tidak bisa kita tawar-tawar lagi. Yang terpenting adalah bukan berusaha menjadi masyarakat yang sama dalam akidah beragama dan berbudaya, namun tetap memelihara perbedaan demi tunggal ika. Burung Garuda telah jelas mencengkeram “Bhinneka Tunggal Ika” . Semboyan negara menggambarkan kondisi Indonesia yang mempunyai banyak keragaman kemajemukan suku, budaya, adat dan agama, namun tetap menjadi satu bangsa utuh. Frasa ini berasal dari bahasa Jawa Kuno yang artinya adalah “Walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu jua”.
Tasamuh dalam Multikultural
Lantas, bagaimana cara kita bersikap sebagai seorang Muslim yang taqwallah terhadap kemajemukan bangsa Indonesia? Toleransi dalam Islam merupakan prinsip penting yang dijunjung tinggi. Islam mengajarkan umatnya untuk memperlakukan sesama dengan pengertian, penghormatan, dan keadilan, terlepas dari perbedaan agama, suku, atau budaya. Nabi Muhammad SAW sendiri menjadi contoh teladan dalam mempraktikkan toleransi dalam kehidupan sehari hari. Sebagai contoh, dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad SAW bersabda:
حَدَّثَنَا جَرِيرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ” مَنْ لاَ يَرْحَمُ النَّاسَ لاَ يَرْحَمُهُ اللَّهُ " . قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ
"Barang siapa yang tidak memenuhi belas kasih terhadap orang lain (manusia) maka Allah SWT tidak akan berbelas kasih kepadanya.
Hadits ini menegaskan pentingnya memiliki sikap toleransi dan kasih sayang terhadap sesama manusia.
Memang toleransi hanya mengarah pada kasih sayang saja tanpa batas?tentu saja tidak. Batasan dari toleransi/tasamuh itu adalah istihza'; yang berarti memperolok-olok, menghina dan mencela. Sesama anak bangsa, kita tidak boleh mengolok-olok suku lain berdasarkan budaya yang tidak sama dengan kita. Karena hukum Islam juga tercipta dari sebuah akar budaya. Dalam konteks ini, al-adatu muhakamah berarti bahwa adat yang telah diterima dan disepakati oleh masyarakat dapat dijadikan sebagai hukum, asalkan tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
Pada dasarnya, bersuku-suku dan berbeda etnis adalah ketetapan dari Allah swt. Tidak bisa kita memaksakan kehendak suku lain agar sama berbudaya dengan apa yang kita anut. Demikian juga, Islam telah mengatur dengan indah dan sistematis tentang cara dan pola agar Muslim sejati tidak mencederai masyarakat lainnya dalam potret kemajemukan. Karena pada prinsipnya, hukum Islam pun dapat beradaptasi dengan elastis pada budaya setempat. Yang terpenting adalah bertoleransi tanpa al istihza’i. Memaklumi dengan perasaan, menerima perbedaan budaya orang lain, tanpa mencederai budayanya. Apabila hal ini dapat diwujudkan, maka akan tercipta negara yang baldatun toyyibatun warabbun ghafur.