Status Agama Islam Dalam Lebaran Kurban
Penulis: DR. AHMAD AFIF
Agama Rahmatan Lil ‘Alamin merupakan pondasi utama Islam. Tidak bisa serta merta dimaknai dengan bom, teroris, kumuh, kemiskinan, dan lain sebagainya. Islamophobia justru lahir dari sebuah paradigma tendensius yang berhasil mendeskreditkan agama ‘kasih sayang bagi seluruh alam’ ini. Kebisingan dunia terhadap citra negatif Islam berasal dari antiklimaks politik internasional yang ingin menjadikan pemeluk Islam menjadi objek kebengisan agar tujuan mereka bisa lancar jaya.
Islam dilahirkan bukan melalui proses premature, namun dilahirkan melalui pola serta mekanisme yang tidak sederhana. Sejak agama Islam disahkan melalui utusan Muhammad saw., agama ini dinamai atas dasar nabi yang diturunkan sesuai masanya. Ketika nabi Nuh diutus, maka Namanya ‘agama Nuh’. Ketika Nabi Yakub diutus, maka namanya ‘agama Yakub’. Ketika Nabi Ibrahim diutus, maka dinamakan ‘agama Ibrahim’. Dari Nabi Ibrahim Alaihissalam, telah banyak beberapa rumusan penting tentang konsep dan alur beragama Islam dengan sangat jelas. Ibarat proses awal mula kejadian manusia yang di dalam kandungan mengalami beberapa fase – sel telur, embrio dan plasenta, tulang dan tengkorak, janin dan bayi – yang sangat rapi dan teratur. Begitu juga agama Islam yang akhirnya menemukan model konsep fundamental ajarannya berupa ‘Rahmatan Lil ‘Alamin’.
Diilhami kisah Nabi Ibrahim Alaihissalam yang pernah berkomunikasi dengan Allah swt. -- (ketika diangkat di alam Malakut): Sumber: Gus Baha’-- untuk dimintai saran perihal manusia di bumi yang sering membuat kerusakan. Ibrahim Alaihissalam tidak berpikir panjang dengan langsung menjawab ‘matikan saja mereka’. Lantas pada edisi yang lain, Allah swt. memberikan ujian kepada Ibrahim untuk menjadi pelajaran sebagai rumusan agama Islam. Allah memerintahkan untuk mengurbankan anaknya yaitu Nabi Ismail Alaihissalam. Ibrahim langsung syok dan menjawab ‘anak saya merupakan pelita hati keluarga’. Bagaimana tidak? Seorang Nabi yang sudah berpuluh tahun lamanya – ada Riwayat yang mengatakan 20 tahunan – tidak dikaruniai seorang keturunan, lantas Siti Sarah (istri yang pertama) memberikan budaknya untuk dinikahi oleh Nabi Ibrahim (Siti Hajar). Dari situlah, lahir seorang anak bernama Ismail.
Singkat cerita, Allah balik bertanya kepada Ibrahim yang masih berpikir atas perintah-Nya. “Mengapa engkau masih berpikir untuk tidak mengurbankan anakmu? Padahal dikesempatan sebelumnya engkau memberikan pendapat untuk mematikan manusia karena kerusakan yang ditimbulkan ”, Firman Allah swt. Dengan segera, Ibrahim langsung menyetujui perintah tersebut dengan mengurbankan Ismail. Karena hal itu hanya sebatas ujian saja, maka Allah menggantinya dengan domba dari surga.
Lingkungan hidup harus mempunyai pola pelestarian secara konserfatif; bukan kontradiktif. Melalui kisah Ibrahim, Allah memberikan pelajaran bagi manusia bahwa konsep Islam adalah Rahmatan Lil Alamin bukan Adzab Lil Alamin. Jelaslah, studi kasus sebelum Nabi Ibrahim menjadi uraian evaluasi bagi Tuhan bahwa melestarikan alam – termasuk manusia sebagai khalifah – bukan serta merta diberikan azab sebagai solusi. Tapi sebaliknya, melalui kesan positif dengan cara merangkul dan memperbaiki kesalahan yang ada agar supaya lingkungan hidup kita terus asri dan bersemi.
Lebaran Kurban mengajarkan awalal khilqoh (asal mula kejadian manusia). Seorang Nabi yang lemah lembut menerima perintah Tuhan untuk mengurbankan anak setelah adanya peristiwa di alam malakut tentang kerusakan alam yang disebabkan oleh ulah manusia. Allah swt. menjadikan Ibrahim sebagai benchmark.
Surat An-Nahl Ayat 123:
ثُمَّ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ أَنِ ٱتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَٰهِيمَ حَنِيفًا ۖ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ
Artinya: Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): "Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif" dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.
Tuhan juga menyempurnakan syariat terhadap ajaran nabi-nabi setelah Ibrahim sampai kepada Nabi Muhammad saw.
Al Maidah ayat ke-3
اَ لۡيَوۡمَ اَكۡمَلۡتُ لَـكُمۡ دِيۡنَكُمۡ وَاَ تۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِىۡ وَرَضِيۡتُ لَـكُمُ الۡاِسۡلَامَ دِيۡنًا..….
….