REBO WEKASAN (HARI RABO DI AKHIR BULAN SHAFAR)
Penulis: Dr. Ahmad Afif, M.EI, CWC.
Rebo Wekasan merupakan istilah amalan shalat sunah mutlak yang dilaksanakan oleh para ahli ma’rifat (seseorang yang telah mencapai tingkat pemahaman batin dan pengenalan yang sangat mendalam kepada Allah SWT melalui mata hatinya) serta dianjurkan. Begitu juga ahli mukasyafah (seseorang yang mendapatkan anugerah berupa tersingkapnya tabir atau hijab antara dirinya dan rahasia keghaiban Ilahi) dan tamkin (orang yang telah mencapai tingkat ketenangan jiwa yang stabil, teguh, dan mapan setelah melewati proses perjalanan spiritual (talwin)) juga melaksanakan shalat ini di setiap tahun akhir shafar.
Bulan ini sejatinya merupakan bulan baik dengan ditandainya sejumlah peristiwa penting diantaranya: Pernikahan Rasulullah SAW dengan Siti Khadijah, Pernikahan Sayyidah Fatimah dengan Ali bin Abi Thalib, Kemenangan kaum Muslimin dalam Perang Khaibar, dan Awal mula hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Peristiwa bersejarah tersebut menegaskan bahwa Shafar memang benar-benar sebuah “kekosongan” mitos sial.
Tidak jarang di shafar, masyarakat menyelenggarakan pernikahan dikarenakan tabarukan (mengambil berkah) dari rangkaian walimatul ursy Rasulullah dan ahlu bait. Begitu juga, umat Islam mengawali usaha maupun aktivitas penting lainnya pada bulan shafar.
Jadi, tidaklah benar bahwa shafar merupakan bulan penuh kesialan seperti yang dimitologikan oleh Arab Jahiliyah. Mereka beranggapan bahwa Shafar itu penuh sial. Apabila kita analogikan seperti malam satu suro atau jumat kliwon dalam mitologi jawa.
Shafar penuh dengan keberkahan walaupun sejumlah ahli ma’rifat juga menyatakan bahwa di akhir bulan ini terdapat 320.000 bala yang diturunkan oleh Allah swt. Atas dasar itulah, shalat sunah mutlak atau hajat –Rebo Wekasan—dianjurkan.
Tata caranya sama seperti shalat mutlak pada umumnya dengan dua tahiyat dengan satu salaman. Berikut niatnya:
اُصَلِّي سُنَّةً لِدَفْعِ الْبَلاَءِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى
Setiap selesai membaca surat al-Fatihah membaca:
Surat al-Kautsar 17 kali (rakaat pertama)
Surat al-Ikhlas 5 kali (rakaat kedua)
Surat al-Falaq (rakaat ketiga)
surat an-nas (rakaat keempat)
setelahnya membaca doa:
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dengan kalimat-Mu yang sempurna dari angin merah dan penyakit yang besar di jiwa, daging, tulang dan urat. Maha Suci Engkau apabila memutuskan sesuatu hanyalah berkata kepadanya, “Jadilah” maka “jadilah ia”.
Tentu saja harapannya adalah keselamatan yang sama selalu digaungkan Ketika shalat jumat. Dalam khutbah kedua dilafadzkan doa agar supaya selamat dari bala serta malapetaka yang akan menimpa umat Islam. Doa juga ditujukan kepada mayoritas rakyat bangsa Indonesia, negara-negara Islam, serta seluruh umat manusia. Tanpa memandang apa agama mereka, Islam mengajarkan bahwa sisi empati kemanusiaan adalah martabat yang luhur daripada hanya posesif terhadap diri sendiri.
Begitulah para ahli ma’rifat, ahli mukasyafah, tamkin memberikan informasi anjuran serta harapan bahwa seluruh umat Islam dapat berdoa untuk dirinya sendiri dan keluarga serta orang lain. Mereka tidak hanya memikirkan dirinya, namun umat secara umum atas apa yang telah mereka lihat dan saksikan. Pembelajarannya adalah berikan apa yang kita ketahui agar bermanfaat bagi yang lain dan menjadi ladang kebaikan tentunya.