Akhlaq

Fitrahnya Manusia Dalam Bahagia dan Bersedih

Fitrahnya Manusia Dalam Bahagia dan Bersedih

Penulis: Dr. Ahmad Afif, M.EI, CWC.

Instagramamanahzakat

Terkadang kita harus berbahagia dan juga bersedih. Tahukah kalian bahwa kedua luapan emosional tersebut sejatinya memang menjadi FITRAH bagi manusia di muka bumi. Allah memberika segalanya memang berpasang-pasangan. Begitupun juga ada sedih dan bahagia. Karena keduanya justru akan menimbulkan kebimbangan psikologis, kesehatan, serta ketidakpatuhan terhadap anjuran Alquran dan Nabi.

Allah berfirman dalam surat Yunus ayat 64 yang berbunyi:

لَهُمُ الۡبُشۡرٰى فِى الۡحَيٰوةِ الدُّنۡيَا وَفِى الۡاٰخِرَةِؕ لَا تَبۡدِيۡلَ لِـكَلِمٰتِ اللّٰهِؕ ذٰلِكَ هُوَ الۡفَوۡزُ الۡعَظِيۡمُؕ‏ ٦٤

Artinya: Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan bagi janji-janji Allah. Demikian itulah kemenangan yang agung.

Gembira itu boleh-boleh saja asal tidak gembira di atas penderitaan orang lain maupun terlalu gembira. Bisa jadi orang yang melihat kegembiraan kita sedang dalam kesusahan. Otomatis, kegembiraan yang sedang kita rasakan tidak begitu adanya bagi yang sedang dilanda kegundahan. Kegembiraan jenis ini sangat tidak dianjurkan dikarenakan hati diri sendiri tetap dijaga asalkan tidak melukai hati orang lain.

Disamping itu, gembira yang keterlaluan juga tidak baik seakan tidak ada sebuah penyesalan dan evaluasi terhadap dosa kepada Tuhan dan melukai perasaan orang. Bahagia yang seperti ini juga sangat tidak dianjurkan karena dapat membuat tipu daya diri untuk lalai terhadap kewajiban seorang hamba kepada Allah swt. dan tanggung jawab terhadap sesame manusia.

Boleh jadi hal tersebut juga demikian adanya Ketika manusia merasa sedih. Kesedihan yang berlarut akan menampakkan kegundahan dalam semangat ibadah dan rutinitas harian. Seakan dunia sudah berhenti berputar dan arah jarum jam tidak terus berjalan. Sedih diperbolehkan apabila baik untuk diri karena sebuah penyesalan terhadap dosa yang diperbuat serta tak akan mengulangi kesalahan yang sama untuk kesekian kalinya.

Bahkan, Allah swt. memberikan kewajiban hamba-Nya untuk berbahagi di hari raya serta tasyrik. Orang yang berpuasapun dilarang dikala itu karena waktu yang dibuat digunakan untuk berbahagia.

Ketika terlalu berbahagia, Allah swt. juga merekomendasikan di setiap sepertiga malam untuk kiranya kita sedih dalam menyesali dosa yang diperbuat serta bermunajat kepada-Nya bahwa segalanya untuk beribadah.

Hadits Riwayat Al-Bukhari: Dari Abu Hurairah RA, Nabi SAW bersabda, "Sesungguhnya agama ini mudah, dan tidak ada seseorang yang mempersulit agama (dengan berlebih-lebihan) niscaya ia akan dikalahkan. Maka bersikaplah yang benar, mendekatlah (jika belum sempurna), berilah kabar gembira, dan mohonlah pertolongan... dan bersikap sederhanalah (al-qashda al-qashda) niscaya kalian akan sampai." (HR. Shahih Bukhari).

Rekomendasi dari Nabi juga memberikan ulasan yang normal dan sedang-sedang saja dalam menjalani rutinitas sehari-hari. Tidak terlalu berbahagia yang sampai melukai yang lain juga tidak begitu bersedih diri supaya semangat untuk terus berdikari.